Fotografer : Henny Lestari Lusiana Lada 

Setiap orang punya caranya sendiri menikmati musik. Ada yang hanya mendengarkannya saja, ada yang berusaha masuk lebih dalam lewat usaha memainkan salah satu alat musik. Musik membangkitkan sisi lain dari diri individu yang menikmatinya.

Usaha untuk lebih dekat dan masuk ke dalam dunia seni musik bisa ditempuh lewat belajar musik. Musik bukan hal baru bagi masyarakat kota Kupang tetapi pendidikan musiklah yang langka di kota ini. Di Kupang hanya ada satu perguruan tinggi swasta yang mempunyai jurusan seni musik dan pendidikan non formal seperti tempat kursus musik jarang ditemui. Kebanyakan orang Kupang bisa bermain alat musik karena belajar sendiri atau lewat buku bahkan keluar dari NTT. 

Melihat minat masyarakat kota Kupang maka dibukalah rumah musik Isabela pada tahun 2016. Terletak di Jl. Ahmad Yani dan memiliki sekitar 80 orang murid, 6 orang guru, dan 10 ruang kelas dengan fasilitas penunjang belajar. Banyak hal yang bisa dipelajari mulai dari piano, biola, keyboard, gitar dan drum. Selain itu juga terdapat kelas vokal dan melukis. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak adalah “penghuni” tetap rumah musik ini. 

Konsep yang di pilih adalah privat dan homey. Konsep homey yang menjauhkannya dari kesan formal dan kaku. Hal inilah yang membuat anak-anak nyaman karena mereka tak ‘dipaksa belajar’ tetapi suasana rumah yang nyaman untuk belajar membuat betah berlama-lama belajar musik. “Frank Zappa mengatakan menulis tentang musik itu seperti menari tentang arsitektur”. Rumah adalah karya arsitektur yang selalu mengajakmu pulang. Itulah mengapa selalu ada rindu untuk kembali ke rumah musik Isabela. 

—————– —————– —————– —————– —————–

Henny Lestari Lusiana Lada disapa Henny, lahir di kota Kupang NTT. Perempuan yang jatuh cinta dengan dunia Jurnalistik sejak SMA mulai terpikat dengan fotografi sejak tahun 2016.

Baginya, fotografi bukan sekadar dokumentasi, tapi lebih dari itu fotografi adalah seni. Baginya, fotografi adalah seni melihat suatu objek dari sudut pandang personal, merekam dalam memori dan memvisualisasikannya.

Foto yang dihasilkan tidak saja untuk dirinya tapi bisa dinikmati banyak orang. Berprofesi sebagai seorang dosen pada Prodi Ilmu Komunikasi UNDANA membuatnya terus meningkat skill fotografi yang kini dicintainya.

Karyanya telah dipamerkan di Pameran dan Pagelaran Seni Afterthought di Taman Budaya Gerson Poyk tanggal 28 – 30 Mei 2019 bersama Kelas Fotografi Angkatan VII, SKolMus.