Badai Informasi Menyusul Badai Seroja di Kota Kupang

Badai Informasi Menyusul Badai Seroja di Kota Kupang

Penulis: Ren Bonlae (Kupang)

Screenshoot berita tentang hoax dari portal online Regional Kompas

Setelah dihantam badai silon tropis seroja pada 4 April 2021, warga kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dihantam badai yang lain: badai informasi.

Malam itu tanggal 7 April 2021 beredar informasi di dunia maya akan adanya Tsunami. Warga di sepanjang pesisir kota menjadi panik dan bergegas meninggalkan rumah mereka, menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih tinggi.

Informasi tentang Tsunami yang menyusul Seroja ini menimbulkan rasa takut, cemas, bingung, bercampur aduk, membuat mereka terpaksa  lari meninggalkan rumah mereka. Banyak yang hanya membawa bawaan seperlunya, banyak pula yang hanya dengan pakaian di badan.

Masyarakat  di wilayah pesisir seperti Namosain, Kota Tua, Pasir Panjang, Oesapa, dan Lasiana berlarian mencari tempat yang berada di ketinggian seperti di Depan gerbang Undana, kantor walikota, jembatan Petuk dan bahkan ada yang sampai ke jalur 40 demi menyelamatkan diri.

Salah Seorang Warga Oesapa Wandi Adu mengatakan sekitar pukul 13.00 WITA banyak masyarakat yang sudah mengungsi dan mencari tempat tinggi untuk menyelamatkan diri.

“ Saat beta pulang ke rumah karena mendengar informasi ini. Beta lihat di setaip jalan pulang menuju rumah di oesapa, kendaraan sangat reme dan bahkan beta lihat ada yang hanya menggunakan kaki dan berlari menuju ketinggian untuk mencari keselamatan” ungkap wandi yang adalah warga oesapa.

Wandi yang saat itu melihat orang berlarian sontak membuat ia pulang dan memberitahukan keluarganya di rumah dan tetangga untuk bergegas menyimpan dan lari mencari keselamatan.

Kepanikan yang terjadi di masyarakat, sehingga membuat mereka berlarian dan mencari keselamatan ini diakibatkan oleh informasi yang mengatakan untuk waspada bahwa akan ada tsunami dan meminta untuk menghindari daerah pantai,  selain itu juga berita dari CNN Indonesia dengan judul BMKG Peringati Potensi Gelombang mirip Tsunami di NTT pada 6 April 2021, yang ramai beredar di media social facebook, Instagram, dan juga di whatsApp.

Kepanikan telah terlajur melanda warga. Pihak kepolisian Daerah NTT dan Polres Kota Kupang serta BPBD Kota Kupang mencoba menenangkan warga dengan meminta masyarakat tidak panik dan pulang ke rumah masing-masing namun berita bohong itu ternyata lebih kuat pengaruhnya.

Kepanikan menjadi-jadi saat panik memenuhi dalam pikiran masyarakat hal ini juga dirasakan oleh Teresia Manafe warga kampung pemulung di Pasir Panjang. Teresia  mengatakan saat kejadian mereka dikagetkan saat tengah malam dan terbangun oleh pukulan tiang listrik di sekitar mereka dan juga kendaraan yang banyak lalu-lalang dan membuat ia dan warga lainnya pergi menyelamatkan diri ke Bundara PU. Setelah sampai di Bundaran PU mama teresia dan masyarakat juga mendapat informasi dari kepolisian bahwa informasi tersebut adalah hoax.

“katong enam keluarga bakeluarga jadi katong pegi ke bundaran menggunakan 2 motor saja jadi pergi antar daluan katong baru dating ambil lain. Pas sampai ju polisi bilang itu Hoax, jadi katong duduk sudah di Bundaran PU situ,” ungkap Teresia.

Saat setalah mendengar informasi hoax tersebut mama teresia pun pulang bersama keluarga, namu hal yang terduga menimpah dimana saat pulang melihat isi rumah mereka telah dicuri

Katong pulang dan lihat ternyata katong punya seng-seng rumah dengan kayu separuh dong su hilang buang, ko katong bangun larih orang dong kesempatan ambil katong pu barang” kata Teresia.

Kapal kayu yang rusak terkena dampak Seroja di Nunbaun Sabu
Kapal kayu sedang bersandar di Pelabuhan Nunbaun Sabu

Rasa cemas dan panik yang masyarakat rasakan ini tentu tidak akan terjadi jika masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan berdasarkan sumber informasi yang jelas. Setelah dicari tahu lebih lanjut berdasarkan sumber cekfakta.tempo.co (7 April 2021) bahwa Klaim bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan akan adanya tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7 April 2021 beredar di Facebook. Klaim itu dilengkapi dengan gambar tangkapan layar sebagian artikel yang dimuat oleh situs media CNN Indonesia pada 6 April 2021. Artikel tersebut berjudul “BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Mirip Tsunami di NTT”. Artikel itu juga memuat foto kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Akun ini membagikan klaim tersebut pada 6 April 2021. Akun itu menulis, Mohon yang punya signal infokan ke saudara2 yang tinggal di area bantaran laut … CNN WARNING UNTUK WASPADA AKAN ADA THUNAMI MOHON SKLI UNTK MENGHINDARI AREA PINGGIRAN PANTAI … BERLAKU BESOK 7 APRIL 2021 … CEK CNN 6 APRIL 2021 .. “

Dengan adanya informasi yang disebarkan diatas ini maka membuat masyarakat menjadi lebih panic dan juga situasi di laut sekitara pasir panjang saat itu juga di sepanjang pasir panjang sejauh amatan mengalami air laut surut. Hal ini juga disampaikan oleh beberapa masyarakat nelayan yang tinggal di tepi pantai sekitar pantai pasir panjang hingga lasiana Kota Kupang.

Namun padaa tanggal 7 april 2021 tidak terjadi Tsunami seperti yang disebarkan di media sosial tersebut. Melainkan informasi tersebut adalah informasi sesat yang disebarkan sehingga mempengaruhi masyarakat dan menyebabkan rasa panik dan takut akan bahaya tsunami yan akan terjadi.

Screenshoot berita tentang hoax dari portal online cekfakta Tempo

Dilansir cekfakta.tempo.co (7 April 2021) bahwa berdasarkan pemeriksaan fakta tempo, klaim bahwa BMKG mengeluarkan peringatan akan adanya tsunami di NTT pada 7 April 2021, menyesatkan. Informasi itu diklaim berasal dari artikel CNN Indonesia. Namun, dalam artikel CNN Indonesia yang dimaksud, tertulis bahwa BMKG hanya menyebutkan adanya potensi gelombang tinggi dari laut yang mrip tsunami di NTT hingga 7 April 2021. Tidak terdapat informasi bahwa gelombang tinggi itu adalah tsunami. Justru, terdapat penjelasan bahwa gelombang ini tidak akan sekuat tsunami di NTT pada 7 April 2021. Menurut BMKG, fenomena yang terjadi di NTT saat ini adalah gelombang tinggi, bukan tsunami.***

————– ——————

Tulisan ini merupakan salah satu bentuk menjaga ingatan sosial warga dalam mengingat dan mendokumentasikan peristiwa Badai Seroja yang menghantam Nusa Tenggara Timur pada 04 April 2021. Kelas jurnalisme warga Seroja dalam Aksara berlangsung selama sebulan dengan mentor utama Matheos Viktor Messakh, mentor tamu Dian Herdiany (Yogyakarta) & Andreas Harsono (Jakarta).