Lony Wenyi Radja Haba adalah fotografer Dokumenter yang juga mentor perempuan di SkolMus yang terpilih dan berkesempatan untuk mengikuti workshop Training of Trainers (ToT) sebagai bagian dari program Permata Photojournalist Grant.  Workshop ToT ini didukung oleh Permata Bank dan Erasmus Huis dengan mentor-mentor dari Pannafoto Institute, Jakarta. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, yakni dari tanggal 12 – 14 Maret 201 dan bertempat di gedung PermataBank, World Trade Center, Jakarta.

Selain Lony, ada Sembilan peserta terpilih lainnya yang berasal dari beragam daerah dan latar belakang, mulai dari praktisi fotografer, pewarta foto, dosen maupun pengajar/mentor di bidang fotografi. Dari Indonesia paling barat ada Muksalmina yang berasal dari Banda Aceh; dari ibu kota Jakarta ada Adrianus Mulya, Grandyos Zafna Manase Mesah, Nyoman Vidhyasuri Utami dan Syamsudin Ilyas; Bari Pratama Islam dari Yogyakarta, Dian Aprilianingrum dari Purwokerto dan Victor Fidelis Sentosa dari Pontianak.

Proses training dalam workshop, Lony memakai baju putih

Masih terkait dengan workshop ToT, workshop ini didesain bagi mereka, baik praktisi maupun akademisi, yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan fotografi di Indonesia, khususnya sebagai pengajar/mentor dan berkeinginan untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengajar fotografi.

“Fungsi yang saya rasakan dari workshop ini adalah memperkaya wawasan terkait praktik belajar mengajar fotografi yang dilakukan teman-teman dari daerah lain sekaligus mengubah paradigma mengajar fotografi saya,” ujar Lony saat menceritakan pengalamannya.

Edy Purnomo, salah satu mentor dalam ToT

Lebih lanjut, Lony menyampaikan bahwa workshop ToT juga sekaligus memberikan kesempatan bagi sesama pengajar fotografi untuk saling belajar dan bertukar pengalaman terkait praktik-praktik pengajaran fotografi di daerahnya masing-masing. Selain mendapatkan pembekalan seputar metode & teknik mengajar, pedagogi kritis,  Lony dan peserta lainnya juga membahas Action Plan serta membuat rencana pelatihan dan aktivitas pendidikan di mana mereka dapat mempraktikkan pengetahuan selama workshop sekaligus mengasah ketrampilan mengajar dalam situasi nyata.

Lony dipilih melalui proses seleksi yang dilakukan panitia penyeleksi di Jakarta. Semua pelamar wajib mengisi formulir, mengirimkan portofolio foto dan melengkapi persyaratan lain yang diberikan pihak penyelenggara. Lony memasukan photo story dokumenter personal tentang Keluarga (suami) dengan judul “Skin Diary”. Kegiatan ini diumumkan secara terbuka di website Permata PhotoJournalist Grant  https://www.permata-photojournalistgrant.org/?p=3592)

Workshop ToT  ini dimentori oleh Edy Purnomo dan Ahmad “Deny” Salman dari PannaFoto. Keduanya telah mendapatkan sertifikasi workshop ToT langsung dari World Press Photo. Di hari terakhir, hadir mentor tamu Ibe Karyanto dari Sang Akar Institute yang mengulas tentang pedagogi kritis dan pentingnya pendidikan fotografi kritis saat ini.

Lony berpose bersama beberapa partisipan ToT
Foto bersama peserta, mentor dan panitia workshop ToT

Tindak lanjut nyata yang Lony bawa sebagai buah tangan dari kegiatan ini untuk SkolMus adalah berbagi melalui kelas malam dan bersama-sama mengembangkan praktik-praktik mengajar yang telah berjalan selama ini, yang tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di SkolMus dan juga melibatkan jaringan baru yang di dapat dari kegiatan ToT ini dalam kelas atau kegiatan SkolMus lainnya. Bagi Lony dan SkolMus, hal ini tentunya menjadi tanggung jawab individu maupun sosial untuk meningkatkan level foto dan titik awal untuk mulai mengembangkan pendidikan fotografi kritis.

(Penulis: Tata Yunita, dirangkum dari hasil wawancara bersama Lony Wenyi Radja Haba)