Sebuah Kolaborasi dari Komunitas Lakoat.Kujawas, SkolMus dan SMPK St. Yoseph Freinsdemetz Kapan

Bagian I – Penulis : Tata Yunita

Tentang pameran ini dijelaskan oleh Dicky Senda, ide awalnya beranjak dari proses kolaborasi SkolMus dengan Lakoat.Kujawas 2 tahun lalu. Tahun 2017, SkolMus mengisi workshop fotografi tentang “Pulang”. Lakoat.Kujawas sendiri 2 tahun belakangan ini sedang membuat ruang arsip, mendokumentasikan berbagai sejarah budaya terutama tentang kampung dimana ini merupakan bagian dari revitalisasi kampung yang mau dikembangkan oleh Lakoat.Kujawas. Belajar dari pengalaman, Dicky melihat fotografi bisa menjadi modal yang baik untuk mendukung revitalisasi kampung atau pengarsipan berbagai hal yang terkait dengan sejarah, kebudayaan, kesenian dan kehidupan orang Mollo pada umumnya. Hal inilah yang menginisiasi Dicky membuat workshop ini bersama SkolMus.


Sesi workshop oleh ETe yang merupakan Alumni SkolMus Angkatan VII

Sabtu, 27 Juli 2019 merupakan pertemuan pertama SkolMus dengan adik-adik di Komunitas Lakoat.Kujawas. Tim pertama kami yang turun ke Taiftob, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan terdiri dari 5 orang. Tim workshop yang terdiri dari 2 orang yaitu Ester Umbu Tara dan Martha Loban, tim survey lokasi pameran yaitu Frengky Lollo dan tim dokumentasi kegiatan yaitu Matis Manilapai dan Tata Yunita.

Kami disambut hangat oleh Dicky Senda dan bapak-mama dari adik-adik yang bergiat di Lakoat.Kujawas. Karena sampai di siang hari, kami melewatkan dengan makan siang bersama sebelum memulai workshop. Jagung bose, sambal terung, dan ikan balik bumbu menjadi santapan nikmat di siang itu. Selesai makan, kami mulai mempersiapkan ruangan dan segala keperluan lainnya untuk memulai workshop fotografi pertama dengan tema “Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu”.

Atta Loban (SkolMus Angkatan VIII, sweater merah) bersama Dicky Senda dan anak-anak peserta workshop

Jumlah anak yang turut serta dalam workshop fotografi pertama ini adalah 20 orang. Workshop dibuka dengan perkenalan yang dibawakan oleh Martha Loban. Dilanjutkan dengan materi dasar mengenai fotografi yang dibawakan oleh Ester Umbu Tara. Ester atau yang biasa disapa Ete berbagi teknik pengambilan foto yang baik dan benar, bagaimana membuat foto bercerita dan bagaimana membuat narasi dari sebuah foto. Antusias anak-anak sangat besar, apalagi ini bukan pertama kalinya mereka belajar fotografi. Di tahun 2017, SkolMus pernah datang dan memberi workshop fotografi juga ditutup dengan pameran foto karya mereka.

Selesai memberikan materi, anak-anak dibagi dalam 3 kelompok besar dengan masing-masing mentor adalah Frengky Lolo, Ester Umbu Tara dan Martha Loban. Mentor-mentor ini memfasilitasi anak-anak untuk membuat daftar lokasi atau hal apa saja yang akan mereka potret juga membuat cerita dari foto yang akan mereka potret. Tema dari foto yang akan anak-anak potret tidak jauh dari tema Festival Lakoat.Kujawas bulan Agustus yaitu “Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu”. Menurut Dicky Senda, tema yang dipilih merupakan tema yang penting. Hal ini dikarenakan tema tersebut sangat dekat dengan realitas anak-anak Desa Taiftob dan Mollo. Lewat tema ini juga Dicky berharap Lakoat.Kujawas bisa hadir memberi sumbangsih untuk konservasi terutama terkait dengan isu-isu ekologi karena orang Mollo sendiri adalah penjaga alam. Sehingga lewat pameran ini Lakoat.Kujawas ingin memberi ruang kepada anak-anak untuk berperan sebagai anak Mollo, sebagai penjaga alam lewat karya mereka seperti puisi tentang Hutan, Mata Air dan Batu juga foto terkait hal tersebut.

ETe sedang menggali ide-ide dalam bentuk visual bersama anak-anak

Keesokan harinya, workshop hari kedua dimulai. Di hari kedua, anak-anak langsung turun praktik di lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya. Setiap anak yang mengikuti workshop fotografi dibekali satu kamera pocket. Kamera pocket ini merupakan kamera yang dihibahkan dan juga dipinjamkan oleh Sri Sadono, Obby Tukan, Heru Lado dan Any Suyono yang digunakan selama workshop fotografi.

Lokasi praktik dilakukan di dekat salah satu mata air di Desa Taiftob. Mata air Oelpuah merupakan salah satu mata air yang menjadi sumber penghidupan bagi warga Desa Taiftob. Di sekitar mata air ini ada batu besar  bernama batu Napi/Napjam dan juga hutan di sekitar Napi. Mengutip dari Dicky Senda, hasil dari workshop ini diharapkan bisa melihat seperti apa anak-anak Desa Taiftob memandang kampung halaman mereka ? Bagaimana mereka memandang hutan, mata air dan batu ? Apakah mereka mengalami langsung krisis air bersih ? Apa yang mereka bayangkan dan imajinasikan tentang kampung mereka di masa depan ? Bagaimana jika mereka memosisikan diri mereka sebagai pohon dan batu, apa yang terjadi ?

Alexander Fransiskus Karel Oematan atau yang biasa disapa Fun, salah satu peserta workshop dan pameran foto berbagi tentang tema yang ia ambil.  Fun memilih alam karena menurutnya di sini alamnya luas, udaranya sejuk. Ia ingin lewat fotonya, orang-orang yang di sini tidak menebang pohon sembarangan. Sedangkan, mata air di Oelpuah adalah mata air yang menjadi salah satu topiknya. Dari cerita Fun, mata air itu tidak akan kering dan mata air itu ditanam oleh nenek Oematan, nenek moyang dari Fun. Mata air itu merupakan salah satu sumber mata air yang tidak pernah kering di Kapan dan menjadi salah satu manfaat kehidupan untuk masyarakat di sekitar situ.

Anak-anak sangat antusias menciptakan foto mereka di setiap jalur yang kami lewati dari sebelum ke mata air, sampai di mata air hingga jalan kembali ke rumah. Ada yang memotret air, batu, hutan, serangga, aktifitas orang mencuci pakaian di mata air, aktifitas orang yang mengambil air, tumbuhan obat dan bunga liar yang ada di sekitar batu dan mata air juga memotret patung Bunda Maria yang ada di gua dari batu besar tersebut. Workshop kami kemudian ditutup pada hari kedua. Sebelum tim kembali ke Kupang, kami membebaskan anak-anak untuk mengambil lebih banyak gambar dan akan kami evaluasi di workshop kedua nantinya.

Tempat lokasi pameran