Keajaiban Foto

 

Ruangan pameran (Courtesy of Goethe-Institut Indonesien/-)
Ruangan pameran (Courtesy of Goethe-Institut Indonesien/-)

Beberapa waktu lalu saya atas undangan teman- teman PIKUL, mengikuti kegiatan festival pangan lokal di desa Oh Aem di Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang. Pada kesempatan itu saya menyempatkan diri untuk mengabadikan kreasi pangan lokal yang disajikan oleh masyarakat desa Oeaem. Menarik dan kreatif, itulah yang ada di benak saya kala melihat potensi- potensi lokal yang dengan cantik diolah oleh mama- mama desa Oh aem dan disajikan pada festival pangan lokal tersebut.

Singkat kata, foto- foto yang saya ambil pada kegiatan itu saya kumpulkan menjadi satu “photo story” dengan tema Kuliner Lokal untuk melengkapi tugas akhir saya sebagai salah satu peserta Skolmus Angkatan 7. Sekitar Bulan Oktober, saya mengikuti Goethe Institut Culinary Photography Competition, lomba fotografi kuliner yang diselenggarakan oleh Goethe Institut Indoensia yang bertempat di Jakarta. Ada beberapa foto yang saya unggah ke akun Instagram untuk mengikuti lomba foto tersebut, antara lain adalah foto minuman selamat datang, yang dibuat dari seduhan batang pohon Secang atau dalam Bahasa lokal disebut Kiskase. Minuman ini merah darah warnanya, hampir mirip teh rosella kalau dilihat dari warnanya.

Selain itu, saya juga mengungah foto Jagung Bose, makanan khas Timor sangat lumrah ditemukan di setiap rumah di Timor. Terdiri dari beberapa jenis jagung dan kacang- kacangan Jagung Bose merupakan sumber karbohidrat pengganti nasi bagi masyarakat Timor. Selain itu ada juga foto Lu’at Mauf, atau foto Luat sarang lebah. Lu’at/Sambal Mauf ini merupakan kreasi sambal yang dibuat oleh Mama- mama di Amfoang dengan mencampurkan sarang lebah madu hutan dengan cabai. Yang membuat unik adalah tradisi memanen madu dan sarangnya sebagai bahan utama Lu’at Mauf, biasanya melibatkan ritual dengan melantunkan syair- syair adat untuk merayu Ratu Lebah untuk memberikan madunya.

Foto Luat Sarang Lebah oleh Silvania Stella Epiphania Mandaru

Tepatnya tanggal 9 November 2018, saya mendapatkan kabar gembira itu. Foto Lu’at Mauf dipilih oleh Tim Juri sebagai salah satu dari 5 pemenang utama Goethe Institut Culinary Photography Competition. Senang bercampur haru, saya yang awam bisa terpilih sebagai salah satu pemenang lomba yang diikuti oleh fotografer- fotografer professional yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Hadiahnya : Tiket PP Kupang- Jakarta untuk mengikuti Pameran Fotografi dimana foto- foto 5 pemenang utama dan pemenang 10 besar lainnya dipajang dan Gala Diner di Goethe Institut dimana dua chef kawakan, Helge Hagemann asal Hamburg-Jerman, dan Petty Elliott asal Indonesia akan menjamu semua tamu dengan hidangan- hidangan kontemporer yang berbasis resep- resep tradisional dari Jerman dan Indonesia.

Saat pertama tiba di lokasi pameran saat pameran berlangsung, rasanya masih tak percaya. Sesudah mendaftar di meja registrasi dan mendapatkan booklet acara malam itu, saya melangkah melalui hall pameran dan melihat foto Luat Mauf yang merupakan foto pertama yang dipajang di sebelah kanan. Saya berdiri di depannya dan memandangi foto itu. Menarik napas dalam- dalam dan berhenti sejenak hanya tuk meresapi momen itu. I made it. My first exhibition. Thank You Lord.

Saya pun bergabung dengan teman- teman pemenang lainnya dan terpukau oleh foto- foto memukau yang dipajang hari itu. Sungguh kaya potensi kuliner Indonesia. Foto tentang rempah- rempah Aceh sampai dengan tradisi bakar batu di Papua, semua menggambarkan betapa kayanya potensi bahan pangan lokal di Indonesia. Saya seperti diajak berkeliling Indonesia dalam satu malam dan disuguhi kuliner yang menggugah selera yang membuat saya menelan ludah saat melihat foto- foto tersebut. Sungguh ajaib kekuatan foto, bukan hanya mata yang dipuaskan, tapi juga indra pengecap dan pembau seperti turut tergugah oleh suguhan foto- foto makanan tersebut.

Foto bersama para juara dan chef Helge Hagemann dari Jerman dan chef Petty Elliott dari Indonesia

Acara berlanjut saat Pimpinan Goethe Institut mengucapkan selamat datang pada semua tamu dan kemudian mengumumkan nama kami sebagai pemenang untuk maju dan menerima sertifikat, tanda selamat atas kemenangan yang diperoleh. Hadirin bertepuk tangan.

Malam yang spektakuler ini ditutup dengan Gala dinner. Gala dinner ini merupakan kesempatan “fine dining” saya yang kedua, sungguh suatu pengalaman yang tak mudah untuk dilupakan. Menu- menu spektakuler gabungan antara bahan- bahan tradisional Indonesia dan Jerman dipadu-padakan menjadi hidangan modern yang tak hanya unik namun juga cantik dan membuat “palet” kita berpesta pora karena dalam setiap gigitan, semua bahan yang digunakan melengkapi satu sama lain, dan menunjukkan kekhasannya rasa dan teksturnya masing- masing. Delicious.

Malam itu saya kembali ke hotel tidak hanya dengan perut kenyang, namun dengan hati penuh rasa syukur atas semua pengalaman dan kesempatan istimewa ini.

All is good.

 

* Terima kasih untuk semua mentor dan teman- teman di SkolMus, Om Zadrak dan teman- teman Pikul, semua ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dan kesempatan yang diberiklan oleh teman- teman semua.

 

Portrait Freny Mandaru

Freny Mandaru, Perempuan, bukan fotografer professional, tinggal di belahan timur Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

+ 45 = 50

%d bloggers like this: