Eat local food, support your roots!

Seri I :
Pangan Lokal dan Arsip Visual

Pangan lokal memiliki beberapa keunggulan, seperti lebih dekat dengan rumah tangga, adaptasi terhadap iklim tinggi dan mudah dibudidayakan, bahkan beberapa tanaman tidak membutuhkan perawatan khusus atau pemberian pupuk pabrik untuk dapat berkembang dengan baik.

Keinginan saya untuk belajar tentang pangan Lokal bertambah kuat sejak kegiatan visit and writing. Sebuah kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh Perkumpulan pikul untuk mendorong anak muda tertarik dan ingin tahu tentang pangan lokal. Kami berkunjung ke beberapa desa dan melihat bagaimana pandangan masyarakat desa sendiri tentang pangan lokal.

Ketika berkunjung di desa Uitiuh Tuan, Pulau Semau untuk pertama kalinya saya mengenal tanaman sorgum, atau masyarakat Kupang mengenalnya dengan sebutan jagung rote. Visualnya yang menarik dan kemungkinan baru pertama kali dilihat membuat rasa ingin tahu tentang tanaman ini semakin tinggi.

Sorghum Merah di desa Oh Aem, Kecamatan Amfoang Selatan
Foto : Ester Umbu Tara

Setelah kegiatan itu kami turut mulai mengkampanyekan tanaman ini sebagai salah satu pengganti beras. Kami mengkampanyekan tentang pangan lokal melalui sosial media, media hingga membawa sorgum ke kota Kupang untuk langsung dilihat dan dikonsumsi. Langkah awal yang saya buat adalah menulis tentang sorgum dan bagaimana masyarakat berperan untuk menaikkan derajat pangan lokal di media online Kompasiana dan kedua tulisan itu menjadi tajuk utama.

Video Event Bapalok

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa dalam mengkampanyekan pangan lokal, tidak cukup hanya tanamannya. Siapa yang menanam dan bagaimana hasil olahannya menjadi penting. Karena bagi kebanyakan orang,  tampilan visual dan cerita yang kuat akan membuat mereka penasaran dan semakin ingin tahu tentang suatu pangan lokal.

Mama Debora Kase memegang Bunga Turi Merah di kebun
Foto : Ester Umbu Tara

Pada tahun 2017, saya membuat keputusan tepat dengan belajar fotografi dari SkolMus. Bagi saya pengetahuan dan skill yang saya dapatkan selama tiga bulan belajar semakin menjawab keinginan saya untuk menampilkan visual dan cerita yang kuat bagi produk pangan lokal ataupun penanamnya. Setelah belajar di New Zealand melalui Program INSPIRASI yang ditujukan untuk pemimpin muda dari Indonesia Timur, dan saya memulai proyek “People, Land and Food”. Sebuah proyek yang salah satunya adalah membuat sebuah buku resep berbasis pangan lokal di beberapa desa, seperti Malaka, Oh Aem 1, Bosen dan juga Taiftob di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Dalam proyek ini bukan hanya resep yang saya kumpulkan, tapi ada arsip visual untuk makanan dan  perempuan yang menanamnya. Bagi saya hal ini sangat penting, karena kekuatan dari arsip visual dapat menjangkau mata dan turun ke hati sehingga menjadi suatu media kampanye yang kuat. Selain itu, informasi dan pengetahuan dapat disebarkan dengan mudah dari masa ke masa dan dapat menjadi pembanding untuk riset lainnya yang membutuhkan arsip ini.

Pohon Gewang (KBBI : gebang) adalah tumbuhan yang di gunakan untuk membuat salah satu
pangan lokal akabila . Foto : Ester Umbu Tara

Selain buku foto, salah satu yang akan saya lakukan adalah membuat pameran tunggal bertajuk “Perempuan dan Pangan”.  SkolMus banyak berperan dalam persiapan pembuatan buku dan persiapan pameran tunggal saya selain organisasi tempat saya bernaung, yaitu Yayasan Pikul. Mendapat dukungan dari komunitas dan organisasi menjadi kekuatan bagi saya untuk melakukan yang terbaik.

Pada tanggal 3 Desember 2019 , setelah mengumpulkan resep dari 4 desa dan 4 Perempuan, saya berdiskusi dengan 3 orang pegiat pangan lokal yaitu Nona Heo, Noldy Franklin dan Asty Banoet untuk membuat inovasi resep berbahan dasar pangan lokal saya membuat sebuah event bernama  Bapalok : Baicip* pangan lokal. Event ini mengundang masyarakat umum untuk mencicipi makanan berbahan dasar pangan lokal dan memberi feedback. Sekitar 50 orang hadir, mulai dari siswa-siswi, mahasiswa hingga pekerja. SkolMus berpartisipasi dari design poster publikasi, video publikasi, dalam dokumentasi kegiatan dan foto produk.

Motion Picture Bapalok

Setiap kesempatan turun ke desa dan kegiatan yang saya lakukan, membuat saya yakin bahwa perempuan mengambil peran yang amat penting dalam menjaga kelestarian pangan lokal di lahan maupun di meja makan. Selain itu, saya menyadari, sebagai perempuan, saya mampu melakukan sesuatu. Saya mungkin tidak menanam, saya hanya makan. Namun saya dapat menyebarkan semangat dan melestarikan pangan lokal dengan cara saya sendiri, yaitu lewat arsip visual. ***

* Baicip = Mencicipi

Ester “Ete” Umbu Tara | Penulis adalah fotografer dan pegiat kampanye pangan lokal berdomisili di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Sekarang sedang menyiapkan pameran foto tunggal bertema “Perempuan & Pangan”.