Berita

Keajaiban Foto

Keajaiban Foto

 

Ruangan pameran (Courtesy of Goethe-Institut Indonesien/-)
Ruangan pameran (Courtesy of Goethe-Institut Indonesien/-)

Beberapa waktu lalu saya atas undangan teman- teman PIKUL, mengikuti kegiatan festival pangan lokal di desa Oh Aem di Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang. Pada kesempatan itu saya menyempatkan diri untuk mengabadikan kreasi pangan lokal yang disajikan oleh masyarakat desa Oeaem. Menarik dan kreatif, itulah yang ada di benak saya kala melihat potensi- potensi lokal yang dengan cantik diolah oleh mama- mama desa Oh aem dan disajikan pada festival pangan lokal tersebut.

Singkat kata, foto- foto yang saya ambil pada kegiatan itu saya kumpulkan menjadi satu “photo story” dengan tema Kuliner Lokal untuk melengkapi tugas akhir saya sebagai salah satu peserta Skolmus Angkatan 7. Sekitar Bulan Oktober, saya mengikuti Goethe Institut Culinary Photography Competition, lomba fotografi kuliner yang diselenggarakan oleh Goethe Institut Indoensia yang bertempat di Jakarta. Ada beberapa foto yang saya unggah ke akun Instagram untuk mengikuti lomba foto tersebut, antara lain adalah foto minuman selamat datang, yang dibuat dari seduhan batang pohon Secang atau dalam Bahasa lokal disebut Kiskase. Minuman ini merah darah warnanya, hampir mirip teh rosella kalau dilihat dari warnanya.

Selain itu, saya juga mengungah foto Jagung Bose, makanan khas Timor sangat lumrah ditemukan di setiap rumah di Timor. Terdiri dari beberapa jenis jagung dan kacang- kacangan Jagung Bose merupakan sumber karbohidrat pengganti nasi bagi masyarakat Timor. Selain itu ada juga foto Lu’at Mauf, atau foto Luat sarang lebah. Lu’at/Sambal Mauf ini merupakan kreasi sambal yang dibuat oleh Mama- mama di Amfoang dengan mencampurkan sarang lebah madu hutan dengan cabai. Yang membuat unik adalah tradisi memanen madu dan sarangnya sebagai bahan utama Lu’at Mauf, biasanya melibatkan ritual dengan melantunkan syair- syair adat untuk merayu Ratu Lebah untuk memberikan madunya.

Foto Luat Sarang Lebah oleh Silvania Stella Epiphania Mandaru

Tepatnya tanggal 9 November 2018, saya mendapatkan kabar gembira itu. Foto Lu’at Mauf dipilih oleh Tim Juri sebagai salah satu dari 5 pemenang utama Goethe Institut Culinary Photography Competition. Senang bercampur haru, saya yang awam bisa terpilih sebagai salah satu pemenang lomba yang diikuti oleh fotografer- fotografer professional yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Hadiahnya : Tiket PP Kupang- Jakarta untuk mengikuti Pameran Fotografi dimana foto- foto 5 pemenang utama dan pemenang 10 besar lainnya dipajang dan Gala Diner di Goethe Institut dimana dua chef kawakan, Helge Hagemann asal Hamburg-Jerman, dan Petty Elliott asal Indonesia akan menjamu semua tamu dengan hidangan- hidangan kontemporer yang berbasis resep- resep tradisional dari Jerman dan Indonesia.

Saat pertama tiba di lokasi pameran saat pameran berlangsung, rasanya masih tak percaya. Sesudah mendaftar di meja registrasi dan mendapatkan booklet acara malam itu, saya melangkah melalui hall pameran dan melihat foto Luat Mauf yang merupakan foto pertama yang dipajang di sebelah kanan. Saya berdiri di depannya dan memandangi foto itu. Menarik napas dalam- dalam dan berhenti sejenak hanya tuk meresapi momen itu. I made it. My first exhibition. Thank You Lord.

Saya pun bergabung dengan teman- teman pemenang lainnya dan terpukau oleh foto- foto memukau yang dipajang hari itu. Sungguh kaya potensi kuliner Indonesia. Foto tentang rempah- rempah Aceh sampai dengan tradisi bakar batu di Papua, semua menggambarkan betapa kayanya potensi bahan pangan lokal di Indonesia. Saya seperti diajak berkeliling Indonesia dalam satu malam dan disuguhi kuliner yang menggugah selera yang membuat saya menelan ludah saat melihat foto- foto tersebut. Sungguh ajaib kekuatan foto, bukan hanya mata yang dipuaskan, tapi juga indra pengecap dan pembau seperti turut tergugah oleh suguhan foto- foto makanan tersebut.

Foto bersama para juara dan chef Helge Hagemann dari Jerman dan chef Petty Elliott dari Indonesia

Acara berlanjut saat Pimpinan Goethe Institut mengucapkan selamat datang pada semua tamu dan kemudian mengumumkan nama kami sebagai pemenang untuk maju dan menerima sertifikat, tanda selamat atas kemenangan yang diperoleh. Hadirin bertepuk tangan.

Malam yang spektakuler ini ditutup dengan Gala dinner. Gala dinner ini merupakan kesempatan “fine dining” saya yang kedua, sungguh suatu pengalaman yang tak mudah untuk dilupakan. Menu- menu spektakuler gabungan antara bahan- bahan tradisional Indonesia dan Jerman dipadu-padakan menjadi hidangan modern yang tak hanya unik namun juga cantik dan membuat “palet” kita berpesta pora karena dalam setiap gigitan, semua bahan yang digunakan melengkapi satu sama lain, dan menunjukkan kekhasannya rasa dan teksturnya masing- masing. Delicious.

Malam itu saya kembali ke hotel tidak hanya dengan perut kenyang, namun dengan hati penuh rasa syukur atas semua pengalaman dan kesempatan istimewa ini.

All is good.

 

* Terima kasih untuk semua mentor dan teman- teman di SkolMus, Om Zadrak dan teman- teman Pikul, semua ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dan kesempatan yang diberiklan oleh teman- teman semua.

 

Portrait Freny Mandaru

Freny Mandaru, Perempuan, bukan fotografer professional, tinggal di belahan timur Indonesia

 

Relasi : Manusia dan Alam

Relasi : Manusia dan Alam

 

 

Dalam lingkungan hidup manusia ada bermacam-macam hal yang di alami melalui penerimaan panca inderanya misalnya cahaya, warna, suara, rasa dan sebagainya yang masuk ke dalam bagian tertentu dari otaknya. Yang kemudian diolah menjadi susunan yang di proyeksikan  oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi melalui berbagai medium.

Interaksi manusia dengan lingkungan akan tampak biasa untuk dijalani, tapi akan menjadi luar biasa saat bisa diceritakan kembali ketika semua telah berlalu. Sebagai pencerita visual, kemauan untuk menceritakan kembali, menjadi semangat kami untuk mendokumentasikan keragaman relasi yang terjalin antara manusia dengan lingkungannya..

Lihat saja bagaimana kemurahan alam semesta memberikan hasil bumi bagi manusia yang mau mengelola alam dengan baik. Mengelola dengan mau membaca perubahan alam dan beradaptasi untuk tetap bertahan hidup. Atau bagaimana alam menunjukan keindahannya dan manusia juga menentukan caranya tersendiri untuk menikmatinya.

Melihat dan merekam manusia berinteraksi sosial dengan sesama. Ada semangat, putus asa, ketidakpedulian, kegembiraan, kesedihan dan masih banyak ekspresi yang mungkin muncul dalam interaksi yang terjalin di keseharian kita.

Interaksi inilah yang telah kami rekam dalam perjalanan 2018 dan kami ceritakan kembali dalam bentuk kolaborasi visual diary. Kolaborasi ini melibatkan beberapa fotografer (dari atas-bawah : Adhyt Manafe, Wandry Dami, Armin Septiexan, Frengky Lollo, Matis Manilapai dan Lony Wenyi) dengan ciri khasnya masing masing, sehingga diary ini akan kaya dengan keragaman pendekatan dan gaya berbahasa visual mereka.

Visual diary ini sengaja tidak kami berikan caption di setiap foto agar para penikmat dapat dengan leluasa membaca setiap elemen dalam foto dan kiranya dapat mengambil makna dari setiap pesan yang disajikan dalam foto-foto ini.

Selamat menikmati, salam solidaritas berbagi dari kami, Sekolah MUSA.

Terus Berbagi Cahaya!

 


 

Emilia Ursula

Emilia Ursula

Alumnus Skolmus Angkatan V

Foto: Tato Pada Tubuh Perempuan


Liko Taebenu

Liko Taebenu

Relawan

Alfred W. Djami

Alfred W. Djami

Fotografer/Mentor

Juztin Arya Herliyatno

Juztin Arya Herliyatno

Relawan

Wandry Dami

Wandry Dami

Fotografer

Putu Utomo

Putu Utomo

Fotografer

Mats Manilapai

Mats Manilapai

Fotografer/Videografer

Lely Taolin

Lely Taolin

Alumnus Skolmus Angkatan I

Frengki Lollo

Frengki Lollo

Fotografer/Mentor

Randy Littik (D)

Randy Littik (D)

Web Developer, Design Grafis

List website yang sudah pernah dibuat :

  1. www.mahesanews.com
  2. http://www.bobycomputer.com 
  3. http://www.lokerntt.com
  4. http://www.fisip-unwira.com 
  5. http://www.sekolahmusa.org
  6. http://www.perkumpulanpikul.org
  7. http://www.sinodegmit.or.id
  8. http://www.matawai.com
  9. http://www.nasdem3kota.com 

 

Aplikasi Web & Android :

  1. Sistem Katalog Koleksi Museum Provinsi NTT – UPT Museum NTT (Offline sysytem)
  2. Babibu Android (Jual Beli ternak babi dan Pakan)
  3. Loker NTT Android App (Lowongan kerja NTT)
  4. Sinode GMIT Mobile Android App
  5. Matawai Android App
Adhyt Manafe

Adhyt Manafe

Fotografer/Mentor

Adhi lintang Sodirin

Adhi lintang Sodirin

Fotografer/Mentor

Chrysant Putra Nunuhitu

Chrysant Putra Nunuhitu

Fotografer

Armin Septiexan

Armin Septiexan

Kepala Sekolah

Lony Radja Haba

Lony Radja Haba

Fotografer/Mentor

Yuni Setianingrum

Yuni Setianingrum

Pembina
Dany Wetangterah

Dany Wetangterah

Pendiri/Pembina

Revisi _LAPORAN PUBLIK : Pengorganisasian, Penjurian dan Pendanaan Kegiatan Lomba Foto Bertema Pariwisata Tahun 2018

LAPORAN PUBLIK

Pengorganisasian, Penjurian dan Pendanaan Kegiatan Lomba Foto Bertema Pariwisata Tahun 2018

 

Oleh:

SkolMus Enterprise – Kupang, 2018

 

“Laporan ini dibuat sebagai bentuk akuntabilitas Komunitas SkolMus – Multimedia untuk Semua dan SkolMus Enterprise (unit usaha sosial Komunitas Skolmus) atas penggunaan dana APBD yang disalurkan lewat Kegiatan Lomba ini.”

– SkolMus –

Format Revisi

Untuk selengkapnya silakan download laporan yang telah di revisi berdasarkan nama-nama yang baru di masukan versi pdf berikut : Revisi_LAPORAN PUBLIK_Lomba Foto Pariwisata 2018_SKOLMUS

Ditunda! Juara su ada – Lomba Foto bertema PARIWISATA NTT 2018

DITUNDA!

Pasti su dari tadi kaka-kaka dong ada kepo Insta dan page SkolMus hang? :D..

 

Iya, hari ini seharusnya Pengumuman Juara Lomba Foto Bertema Pariwisata diumumkan…Juri sudah bekerja, juara sudah ditentukan, namun mohon maaf, BELUM bisa diumumkan…

Atas permintaan dari Dinas Pariwisata Provinsi NTT sebagai penyelenggara utama Lomba Foto Bertema Pariwisata Tahun 2018, maka kami menginformasikan bahwa Pengumuman Juara Lomba Foto ditunda, dan akan diumumkan pada tanggal 20 DESEMBER 2018 lewat website Dinas Pariwisata Provinsi NTT 
Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini…

Info dan penjelasan lebih lengkap soal penundaan ini bisa menghubungi Dinas Pariwisata Provinsi NTT ya…

Fanpage Dinas Pariwisata NTT: thenewtourismteritority

Instagram Dinas Pariwisata NTT: thenewtourismterritory

Terima kasih.

SkolMus

Ditunda – Pengumuman Lomba bertema Pariwisata NTT 2018

Pelatihan Fotografi PPA-Jemaat Betlehem Oesapa Barat

Pelatihan Fotografi PPA-Jemaat Betlehem Oesapa Barat

 

 

Praktek Lighting bersama Adhi Lintang Sodirin

 

Kali ini SkolMus membantu anak-anak remaja Pusat Pengembangan Anak – Jemaat Betlehem Oesapa Barat (PPP-JBOB IO0722), Kupang. Rata-rata berumur 15-18 tahun yang terdiri dari 8 orang (4 laki-laki & 4 perempuan). Dengan dimentoring oleh fotografi Adhi Lintang Sodirin, dan di bantu oleh mentor PPA Irony Saefatu.

Praktek Lighting
Praktek Lighting

Kelas Fotografi ini berjalan selama 8 kali pertemuan selama sebulan dari tanggal 3 oktober sampai 3 november. Materinya berupa Sejarah Fotografi, Komposisi, Genre, Lighting, Exposure dan praktek bersama. Kemudian dilakukan pameran 20 foto berukuran 60cmx40cm berbahan luster selama 7 hari tanggal selama 5 – 15 November di Gereja Betlehem, Jl. Sumatiro, Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang.

Suasana Pameran foto di halaman Gereja Betlehem
Suasana Pameran foto di halaman Gereja Betlehem
Suasana Pameran foto di halaman Gereja Betlehem

Berikut nama-nama remaja yang mengikuti kelas fotografi :

  1. Febri Octafianus
  2. Irfan Henukh
  3. Juan Anin Feto
  4. Fania Frans
  5. Wandi Hagi Wila
  6. Simon Tefa
  7. Santi Adoe
  8. Marlin Lobo

Kegiatan ini terselenggarakan dengan sumber dana dari Compassion melalui PPA JBOB.***

 

Lomba Foto Bertema Pariwisata – NTT, 2018

Ayo, ikut lomba Foto Bertema Pariwisata NTT -2018, sekaligus dukung pariwisata di NTT tercinta!

Download panduan lengkapnya disini: http://bit.ly/lombafotowisatantt2018

Waktu Pelaksanaan Lomba

  1. Lomba Foto akan dimulai pada 5 November 2018 dan akan ditutup pada 3 Desember 2018 , pukul 12.00 WITA
  2. Pemenang lomba akan di publikasikan pada 7 Desember 2018 lewat website Dinas Pariwisata Provinsi NTT (http://www.dispar.nttprov.go.id), facebook Dinas Pariwisata Provinsi NTT, akun twitter Dinas Pariwisata Provinsi NTT (@pariwisatantt) dan Instagram @thenewtourismterritory dan website dan akun media sosial SkolMus.
  3. Penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 20 Desember 2018.

Bagaimana cara mengikuti Lomba Foto Ini?

  1. Foto dikirim melalui email ke: sekolahmusa@gmail.com dengan subyek: Lomba Foto Bertema Pariwisata NTT 2018 – [NAMA PESERTA], [KATEGORI]. Pada badan email, sertakan nama lengkap, alamat lengkap peserta dan no HP yang bisa dihubungi dan hasil foto/scan KTP/Kartu Pers/Kartu Pelajar /Identitas lain dengan wajah yang tampak jelas. Jenis kartu/tanda identitas disesuaikan dengan syarat kategori lomba yang dipilih.
  2. Panitia berhak menggugurkan peserta yang tidak memenuhi kelengkapan persyaratan lomba.
  3. Batas akhir pengiriman karya foto adalah tanggal 3 Desember 2018 , pukul 12.00 WITA.

Jika masih membutuhkan informasi mengenai lomba ini dapat menghubungi:

Narahubung lomba:

  1. Dinas Pariwisata Provinsi NTT,

Contact Person:

  • Frouble Nenobais (0852-3933-3560),
  • Neneng (081 337 792 644)
  • Ollvy (0821 458 61072)

Alamat: Jl. Frans Seda 2 No.72, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, NTT. 85228, Telepon: (0380) 826384

  1. SkolMus – Multimedia untuk Semua,
    Contact Person:

Tata (0812-4639-1161), atau Danny DW (081 337 999 414)

Alamat: Sekretariat SkolMus, Jl. Cak Doko No.4, Oebobo – Kupang, NTT Instagram: @sekolahmusa

Facebook : SekolahMUSA – Multimedia untuk Semua.

 

Dokumentasi Praktik Cerdas ; Lakoat.Kujawas

@Poster BaKTI

Sekolah MUSA ikut mendokumentasikan Praktik Cerdas Komunitas Lakoat.Kujawas lewat medium fotografi bercerita yang meliput aktifitas keseharian para kelompok petani dan penenun perempuan, SMPK Santo Yoseph Freinademetz, anak-anak kelas menulis kreatif, dengan tokoh adat Mollo dan Gereja.

Lakoat.Kujawas merupakan proyek kewirausahaan sosial di desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan yang di rintis oleh Dicky Senda yang bertujuan menjadikan desa Taiftob sebagai desa yang punya ruang kreatif sekaligus ruang belajar warga aktif.

Semangat kerja kolaborasi dan solidaritas, semangat warga aktif-inklusif dan kewirausahaan sosial yang dibangun warga di Taiftob sampai ke Festival ini. Tumbuh dalam ruang diskusi, persentasi dan kerjasama baru dengan berbagai pihak yang hadir di Festival yang mempertemukan berbagai gagasan baru dari Indonesia Timur, pemerintah, LSM, donor, dll.


Foto-foto ini di pamerkan dalam Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII dengan mengusung tema “Lokal & Berkelanjutan” di Makasar yang dilaksanakan oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Forum KTI. Event ini didukung oleh Tim Pelaksana KIAT Guru TNP2K.

Dalam rangkaian pameran foto ini juga tampil bersama foto-foto dari Papua dan Papua Barat tentang pemanfaatan aplikasi online sistem administrasi informasi kampung dan distrik dan tradisi menjaga kearifan lokal yang sejalan dengan peraturan negara di Kalaodi, Tidore dan kecanggihan anak-anak muda Makassar menyulap minyak jelantah menjadi biodiesel bagi nelayan, serta portal online analis data berbasis informasi geospasial di Kota Manado.

Fotografer : Armin Septiexan***

Workshop Fotografi JIKOM Undana

Workshop Fotografi JIKOM Undana

oleh Sekolah MUSA

16 Oktober 2018

 

Siang itu panas sekali dalam gedung Perpustakaan Universitas Nusa Cendana berlantai 2. Gedung berkapasitas 50 orang itu menjadi tempat workshop singkat fotografi kerjasama Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP – Universitas Nusa Cendana dan Sekolah MUSA.

Frengki Lollo membawakan sesi Genre dalam fotografi

 

Workshop ini masuk dalam mata kuliah Fotografi Komunikasi yang diampuh oleh Dosen Silvania S.E Mandaru S.Sos., M.Comn, Yohanes K.N Liliweri, S.Sn., M.Sn dan Mariana A.N Letuna, S. Sos., MA. Kemudian Sekolah MUSA mengisi beberapa materi fotografi yang bersifat teknis/praktek. Materinya berupa Exposure, Komposisi, Genre dalam Fotografi serta Pemberian Caption pada Foto.

 

Suasana workshop Fotografi

Workshop kemarin di mentoring oleh Putra Nunuhitu, Adhi Lintang dan Frengki Lollo. Yang kemudian dilanjutkan praktek singkat di sekitaran Pantai Lasiana pada sore harinya.

Praktek di pantai Lasiana
Praktek membuat Portrait

Dengan medium fotografi, para mahasiswa/i tersebut diwajibkan mampu menyampaikan pesan dalam bentuk fotografi sehingga tools yang digunakan beragam yakni, menggunkan handphone, camera pocket dan DSLR.

SekolahMUSA ikut “DocuCamp” : Belajar dari Alam dan Manusia

SekolahMUSA terlibat dalam Pelatihan film dokumenter “DocuCamp” yang di selenggarakan oleh Indonesia Nature Film Society (INFIS) selama delapan hari di Bogor dan Cianjur. Pelatihan ini merupakan DocuCamp kedua yang sukses dilaksanakan pada 3-10 September 2018 dengan diikuti 7 orang peserta yaitu, Agustinus Kalalu dari Sorong, Armin Septiexan dari SekolahMUSA, Cecep Sumarna dari Balai Taman Nasional Siberut, Edi Sabarudin dari WWF Indonesia, Irwan Johan dari Papua, Johan Gustiar Imbenai dari Balai Besar KSDA Papua (Kementrian LHK) dan Jumadi Jaya dari NTFP-EP Indonesia.


 

“…dengan DocuCamp maka kita bisa belajar banyak dari alam dan manusia.”

Program DocuCamp dimentori langsung oleh ke-6 pendiri INFIS yaitu Een Irawan Putra (Executive Director of Rekam Nusantara & Indonesia Nature Film Society), Nanang Sujana (Profesional Documentary Filmmaker), Wahyu Mulyono (Producer, Writer & Underwater Filmmaker), Yok Yok Hadiprakarsa (Wildlife & Ecology Specialist), Ridzki Rinanto Sigit (Director of Mongabay Indonesia) dan Irfan Yulianto (Marine Science Specialist). INFIS merupakan unit produksi film dari Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara yang berada di Bogor, Jawa Barat (http://inaturefilms.org/id/).

Indonesia Nature Film Society ini mengemas materi pelatihan dengan konsentrasi mengenai film dokumenter mulai dari pengenalan INFIS, proses produksi dokumenter, hutan dan kelautan dalam perspektif dokumenter, menggali ide cerita, menulis naskah untuk editing, menulis cerita dokumenter, INFIS Master Sharing Experience, pentingnya audio visual dalam strategi komunikasi dan advokasi, editing story hasil observasi dan screening film karya peserta. Peserta juga diajak menggali lebih dalam dan mengevaluasi isu-isu terkait sumber daya alam, lingkungan dan hubungannya dengan manusia untuk menentukan cerita kemudian menyampaikannya dalam bentuk audio visual.

Suasana belajar DocuCamp waktu malam hari di Saung Sarongge, Cianjur. ©Dokumentasi INFIS

DocuCamp adalah program pelatihan untuk membuka dan menemukan hal baru, menjadi pendengar dan bersikap terbuka terhadap dunia, belajar banyak dari alam dan manusia serta mengikuti rasa ingin tahu kita yang disampaikan melalui sebuah karya kreatif audio visual.

 

Foto bersama INFIS

Pelatihan ini dapat membuka cakrawala baru berpikir dalam menyampaikan sebuah realita melalui media yang efektif untuk menyuarakan gagasan atau ide tentang beragam hal dan mempengaruhi orang lain melalui informasi visual audio yang kita sampaikan. ***

– Sumber dari website INFIS

Yang baru di Jambore PAR GMIT 2018

SkolMus Kelas Fotografi ; Kelas Yakub (Melihat Dunia)

Tentang Jambore PAR GMIT V

 

Instalasi Pameran Foto ©Mats Manilapai

Jambore PAR (Pelayan Anak Remaja)  GMIT  tahun 2018 bertempat di Gereja Alfa Omega, Labat, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Rombongan peserta datang dari ratusan gereja yang tergabung dalam 46 klasis, 60 tim di bawah tema “Anak GMIT Citra Kristus” yang berlangsung selama satu minggu, dihadiri sekitar kurang lebih 1.500 anak-anak PAR dari seluruh NTT.

Pelaksanaan Jambore PAR GMIT tahun 2018 diharapkan membawa terobosan baru dalam pelaksanaannya. Berkaca dari evaluasi kegiatan-kegiatan Jambore PAR sebelumnya, kegiatan di tahun 2018 ini diharapkan dapat menjadi ajang apresiasi dan solidaritas anak dan remaja di GMITsecara utuh dan bukan saja sebagai ajang kompetisi. Karena itu usulan kegiatan PIAR (Pesta Iman Anak dan Remaja) pada Jambore PAR GMIT 2018 sebagai salah satu kegiatan utama diharapkan memiliki unsur pembaharuan konsep.

Karena itu konsep pelaksanaan PIAR Jambore PAR GMIT  ke-5  kemudian disepakati untuk menggabungkan antar proses pembentukan “Karakter Kristus” dengan konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) yang menitik beratkan pada apresiasi terhadap kepribadian dan kecerdasan anak secara individu dan sosial.

Kelas Melihat Dunia ; Kelas Cerdas

Kegiatan PIAR di Jambore PAR GMIT ke-5 tahun 2018 dibagi menjadi 4 kegiatan utama yaitu Kelas Cerdas, Jelajah Alam, Tur Kebhinekaan dan Selebrasi. 

Proses belajar Fotografi Dasar oleh Sekolah MUSA ©Wandry Dami
Seorang anak PAR sedang melihat Pameran Foto © Mats Manilapai
Suasana Pameran Foto ©Wandry Dami

SkolMus tergabung dalam kelas Cerdas yaitu Kelas Yakub (Melihat Dunia) untuk memfasilitasi 25 anak PAR belajar tentang Fotografi Dasar, kemudian melakukan hunting foto bersama yang di bagi pertema/kelompok kemudian foto-fotonya di pajang untuk pameran foto selama kegiatan berlangsung. Berikut nama-nama peserta kelas Melihat Dunia dari perwakilan klasis ;

  1. Merlyn Ottu (Kota Kupang)
  2. Andhika J. Funay (Kupang Barat)
  3. Paulus Ayub Animau (Alor Timur Laut)
  4. Naden M. W. Lay (Fatuleu Barat)
  5. Ayu J. Maro (Alor Barat Laut)
  6. Maya Liensi Bang  (Alor Barat Laut)
  7. Lahairoi Bolla (Rote Timur)
  8. Arni Katulote  (Kota Kupang)
  9. Jordan Haiain (Kota Kupang)
  10. Fransisko Messah (Pantai Baru)
  11. Ruben Redji (Sabu Barat)
  12. Aryanto Huru (Kota Kupang)
  13. Bulan Messah (Rote Barat Daya)
  14. Veri Tua Lesmana Sinaga (Flores)
  15. Adhitiar W. Krus (Sabu Timur)
  16. Ayu Tihelong (Kupang Barat)
  17. Lisna Ngause (Semau)
  18. Bayu Nenohaifeto(Mollo Barat)
  19. Fikryani Moy (Kupang Tengah)
  20. Fanny Napu (Kupang Tengah)
  21. Yoga Manu (Amanuban Timur Selatan)
  22. Winda Manihing (Kota Kupang)
  23. Stevani Siar (Kupang Timur)
  24. Fresti Manu (Amanuban Timur)
  25. Jedija Bien (Amanatun Utara)
Kolase foto anak-anak PAR
Kolase foto anak-anak PAR
Kolase foto anak-anak PAR
Kolase foto anak-anak PAR

Kelas ini ditujukan kepada anak/remaja dengan dominan kecerdasan visual-spasial; yaitu anak-anak/remaja yang menunjukkan kemampuan untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang, menciptakan imajinasi dalam pikirannya atau kemampuan untuk menciptakan bentuk. ***

 

 

 

Workshop Pembuatan Konten Video Kreatif TELKOMSEL

TELKOMSEL bekerja sama dengan Sekolah MUSA untuk membawakan workshop singkat tentang Pembuatan Konten Video Kreatif pada tanggal 7 Juni 2018 di Dusun Flobamora. Ini bukan yang pertama kalinya TELKOMSEL bekerja dengan Sekolah MUSA. Sebelumnya bersama-sama melatih anak-anak di beberapa SMA Kota Kupang dalam Pembuatan video Pendek dalam Program Loop kePo. 

Workshop ini melatih peserta TAP (Telkomsel Apprentice Program) agar bisa membuat konten kreatif berupa video pendek berdurasi 2-3 menit dengan visual dan cerita yang kreatif. Peserta dengan rentang umur 18-25 tahun sangat antusias karena pelatihan ini sangat membantu mereka dalam hal membuat konten kreatif yang materinya bisa didapatkan dari lingkungan sekitar mereka.

Workshop ini di mentoring oleh Adhi Lintang Sodirin alumnus dari program Kelas Fotografi SekolahMUSA Angkatan II. Adhi sekarang menjadi mentor tetap SkolMus dan sedang berkarya di Kupang menjadi fotografer komersil. Lihat link bio Adhi https://www.instagram.com/adhilintang/

Dalam workshop singkat ini Adhi membagi pengalaman dan pengetahuannya dalam praktek pengambilan gambar, post processing dan hasilnya di unggah ke instagram dengan tagar TAP2018.  Materi yang diberikan antara lain Pelatihan basic videografi dan menggunakan aplikasi android Editing video menggunakan Kinemaster. ***

 

Komunitas Film Kupang Rilis “SIKO”, Film Fiksi Pertama KFK.

Komunitas Film Kupang, akhirnya merilis sebuah Film Fiksi Pendek berjudul Siko, setelah sukses dengan Dokumenter Nokas yang diputar di berbagai Festival di dalam maupun juga di luar Negeri.

Film Siko berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga pasca referendum 1999 di Timor Leste. Film ini menggunakan aktor dari kamp-kamp pengungsi asal Timor Leste, yang hingga saat ini masih tinggal di Indonesia. Siko dekat secara personal dengan pengalaman Abe, selaku Sutradara, saat kecil ketika ia tinggal dan mengalami masa konflik di Timor-Timur. Proses film ini sendiri dimaksudkan untuk menjadi salah satu metode healing dengan menjadikan karakter tokoh Siko dan keluarga sebagai medium refleksi terhadap konflik tahun 1999 tersebut.

Official Poster SIKO

Berlokasi di Boneana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, salah satu tempat yang juga menjadi kamp pengungsian masyarakat asal Timor-Timur sembilan belas tahun silam, proses produksi Siko berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Sejak Maret 2018, Tim Produksi telah melakukan serangkaian kegiatan, mulai dari workshop bersama talent, pengambilan gambar, editing, hingga akhirnya siap ditonton bersama masyarakat Kota Kupang pada minggu keempat bulan Juni ini. Produksi Siko melibatkan sejumlah anggota tim yang adalah juga para pegiat aktif Komunitas Film Kupang, dengan mengajak beberapa praktisi Film Nasional, di antaranya, BW Purbanegara dan Bagus Suitrawan selaku Supervisi, Tommy Fahrizal di Soundman dan Andi Budrah sebagai salah satu Produser.

Naskah Siko ditulis dan disutradarai sendiri oleh Manuel Alberto Maia. Film ini juga merupakan peraih Hibah Cipta Perdamaian 2018 oleh Yayasan Kelola yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, serta mendapat dukungan produksi dari Pusat Pengembangan dan Perfilman Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pemutaran Perdana Film Siko akan berlangsung pada tanggal 22 dan 23 Juni 2018 mendatang di Aula Museum Daerah NTT, Jl. Frans Seda No.2, Oebobo, Kupang. Acara yang mengusung tema “Kupang Movie Night 2018” ini, juga mengajak sejumlah Komunitas di Kota Kupang dalam bentuk Pameran Komunitas, Pameran Foto, Fragmen, Stand Up Comedy dan Live Mural. Hanya dengan Rp. 10.000, masyarakat Kota Kupang sudah bisa menikmati rangkaian acara kreatif yang digagas orang muda Kota Kupang ini.

 

Tim Publikasi #SIKO | Komunitas Film Kupang

SkolMus Latih Partner LSM Action Against Hunger: YASATU dan LENTERA CIDEC

“Terima kasih banyak atas kursus singkat yang telah diberikan kepada kami Lentera CIDEC. Sebuah kursus yang menyenangkan dan membuka mata kami untuk melihat perspektif baru dari memotret” Willem Hopeng, salah satu peserta pelatihan dari Lenter CIDEC memberi pendapat tentang pelatihan dasar fotografi ini.

Sekolah MUSA kembali diminta untuk memfasilitasi pelatihan fotografi dasar oleh LSM ACTION AGAINST HUNGER (AAH). Kali ini pelatihan diberikan kepada 2 lembaga mitra kerja AAH, yaitu Lentera CIDEC dan YASATU.

Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para partner AAH dalam tugas meliput kegiatan di lapangan dengan perspektif fotografi yang baik. Diharapkan pelatihan ini mampu meningkatkan kualitas pelaporan visual dengan cerita yang lengkap.

Pelatihan ini dimentori oleh dua orang pengajar-relawan SekolahMUSA yaitu Armin Septiexan dan Adhi Lintang Sodirin, keduanya adalah alumnus dari program Kelas Fotografi SekolahMUSA Angkatan I.

Materi yang diberikan antara lain Sejarah Fotografi, Pengenalan Kamera dan Lensa, Teknik Menuliskan Keterangan Foto, Teknik Dokumentas EDFAT, Visual literacy, Praktek dan evaluasi.

Walaupun materi yang disampaikan cukup padat, namun antusias peserta terlihat sangat tinggi. Tujuh jam pelatihan berjalan namun masih tetap semangat mengikuti setiap proses dari pagi sampai sore.

Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 26 Februari dan 02 Maret 2017, di OCD Beach Café, Lasiana. Peserta Pelatihan berjumlah 11 orang dari karyawan lapangan .YASATU mengikutkan 7 orang dan 4 orang dari Lentera CIDEC *** (Adhi Lintang Sodirin)

Kelas Foto KETONG BISA, Bersama Kelompok CSCD Kupang Dimulai

KETONG BISA #2 – Hari ini, 23 Februari 2018, SkolMus memulai hari pertama Kelas Foto “Ketong Bisa” kerjasama SkolMus dengan Komunitas Children See Children Do (CSCD), Kupang, di dua tempat: Maulafa dan Liliba.

Akan ada sekitar 40 anak yang akan terlibat dalam 4 seri workshop dan akan diakhiri dengan Pameran lokal foto cerita karya para anak-anak ini.

Materi kelas foto “Ketong Bisa” didesain untuk menggunakan memakai fotografi untuk meningkatkan “percaya diri” anak-anak, sesuatu yang penting dan terlupakan pada anak-anak di daerah marjinal di Kota.

cscd_2

Konsep pelatihan “Ketong Bisa” ini dikembangkan setelah kesuksesan proyek perdana yang sama dilakukan bersama di komunitas Lakoat Kujawas, yang berhasil melaksanakan workshop dan pameran foto dalam festival Pau Kolo. Kisahnya bisa dilihat disini: http://sekolahmusa.org/ana-ana-taiftob-ju-bisa

Sementara Komunitas Children See Children Do (CSCD) adalah komunitas yang digagas sebagai kelompok belajar alternatif bagi anak-anak, yang dimotori anak-anak muda hebat di Liliba dan Maulafa.

Komunittas CSCD sendiri sudah dimulai pada 2017, dan saat ini sudah membuka 2 pusat aktifitas, dengan pembiayaan mandiri. Tentang Komunitas CSCD bisa follow instagram mereka: @kelompokcscd.*** (DW)

SkolMus Belajar Ke London!

INTERNATIONAL STUDY VISIT – SekolahMUSA dapat kesempatan untuk ikut dalam International Study Visit (ISV) bersama program ACTIVE CITIZENS, British Council, 3 – 12 Februari di London, United Kingdom

Dany Wetangterah, Founder SekolahMUSA mendapat kesempatan untuk mempresentasikan SekolahMUSA sebagai salah satu Social Action Plan (SAP) yang dipilih mewakili Indonesia untuk menjadi bahan belajar kepada Warga Aktif lain dari 15 negara peserta ISV.

Keikut sertaan Om DW dalam kegiatan ini karena beliau aktif sebagai salah satu pelatih dan pelaku ACTIVE CITIZENS di Kupang bersama Perkumpulan PIKUL, organisasi dimana beliau bekerja selain aktifitas beliau sebagai founder dan pengajar di SekolahMUSA.

skolmus_isv2

Kegiatan ISV ini melibatkan para pelaku dan pelatih program ACTIVE CITIZENS dari 15 Negara di Dunia yang menjalankan program ACTIVE CITIZENS. Kegiatan ISV bertujuan untuk meningkatkan kepekaan, wadah berbagi pembelajaran membangun lingkar belajar dan alumni sesama pegiat ACTIVE CITIZENS di seluruh dunia.

Program ACTIVE CITIZENS, diselenggarakan oleh British Council, lembaga sosial dari Inggris di lebih dari 40 negara termasuk Indonesia, yang bertujuan untuk mendorong keterlibatan warga yang aktif secara lokal namun terhubung secara global.***

Ana-ana Taiftob Ju Bisa! – Kelas KetongBisa SkolMus + Lakoat Kujawas

Bangga rasanya melihat 15 remaja dari Desa Taiftob, Mollo, TImor Tengah Selatan berhasil memamerkan karya fotografi mereka.

Akhirnya, setelah mengikuti workshop fotografi bersama SekolahMUSA dan Gadgetgrapher NTT, 15 anak remaja dari Komunitas Lakoat Kujawas, desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan memamerkan karya mereka di Pameran Foto dan Arsip perpustakaan bergerak Komunitas Lakoat Kujawas, di Kantor Camat Mollo, 12 – 19 Agustus 2017. Dalam catatan, pameran ini dikunjungi 800 kali, untuk pameran selama 6 hari.

Pameran foto bertemakan “Pulang” ini juga bagian dari Festival warga desa Taiftob, Festival ‘Pau Kolo” yang diselenggarakan oleh Komunitas Lakoat Kujawas. Refleksi “Pulang” adalah melihat kembali sejarah Mollo, melihat kembali kampung halaman dengan segala potensinya.

Sebelumnya, anak-anak remaja ini belajar bersama SekolahMUSA tentang fotogarfi selama 4 kali workshop dan bersama warga desa mereka merekam aktivitas harian mereka ke dalam medium foto lalu memamerkannya. Peserta dipinjamkan kamera poket selama 2 minggu dan mereka bebas bercerita terkait diri mereka, keseharian dan lingkungan mereka melalui medium foto.

Selain workshop dan pameran foto jugda ada workshop tari, teater, kelas bahasa Inggris, workshop sains (membuat robot sederhana) hingga presentasi teater oleh anak-anak Komunitas Lakoat Kujawas. Festival ini juga adalah ajang kolaborasi antara komunitas di Kupang dan Kapan, TTS.

Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas yang menyediakan wadah bagi anak dan orang muda, relawan dari berbagai disiplin ilmu, kelompok perempuan dan para petani, yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan komunitas kesenian, perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan homestay di desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan.  Informasi lain terkait Lakoat.Kujawas bisa diikuti di Instagram @lakoat.kujawas dan toko online kami di @lkjws.co

Foto-foto hasil karya 15 Anak ini dapat dilihat dibawah ini:

Foto oleh: Sisilia Tafui
Foto oleh: Sisilia Tafui

Foto oleh: Resi Nati

Foto oleh: Resi Nati

Foto oleh: Santi Banoet
Foto oleh: Santi Banoet
Foto oleh: Rani Laka
Foto oleh: Rani Laka
Foto oleh: Nesta Banfatin
Foto oleh: Nesta Banfatin
Foto oleh: Findi Lengga
Foto oleh: Findi Lengga
Foto oleh: Endiko
Foto oleh: Endiko
Foto oleh: Elen Talan
Foto oleh: Elen Talan
Foto oleh: Dino Sesfaot
Foto oleh: Dino Sesfaot
Foto oleh: Calista Tan
Foto oleh: Calista Tan
Foto oleh: Asri Banoet
Foto oleh: Asri Banoet
Foto oleh: Angki Sanam
Foto oleh: Angki Sanam
Foto oleh: Alma
Foto oleh: Alma

SKOLMUS JOIN BOX 2017 KUPANG

web_skolmus_update_april 2017_nokasSkolMus ikut serta menjadi salah satu komunitas penggagas dari kegiatan BOX 2017: Watching, Coaching, Doing, yang dilaksanakan di Kupang, 17 – 18 Februari 2017.

BOX 2017 adalah sebuah kegiatan yang diaksanakan oleh 18 komunitas anak muda di Kupang, sebagai trigger kegiatan yang akan menjadi wadah tahunan untuk menghargai karya-kartya lokal, dimulai pada tahun 2017.

Agenda BOX 2017 di Kupang bertujuan untuk memberi apresiasi karya kreatif Film dan Video dari anak-anak muda Kupang (dan NTT), menginisiasi munculnya lagi karya-karya film/video dari Kupang (dan NTT) lewat proses Coaching/Melatih dan bertukar pengetahuan dan menginisiasi interaksi antar warga: individu dan komunitas kreatif dan gerakan sosial budaya di Kupang yang dimotori oleh orang-orang muda.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, atmosfir produksi film/video di NTT umumnya dan di Kupang khususnya terasa menggeliat. Itu di tandai dengan produksi film-film independen seperti “Konjak Julio” (finalis Open Competition, Erasmus Huis International Documentary Film Festival 2013) dan NOKAS (Finalis Piala Citra 2016, Singapore International Film Festival 2017), Maria-Shiva (2015, InDocs) yang meraih apresiasi luarbiasa di tingkat Nasional dan Internasional.

Sayangnya, apresiasi di tingkat lokal terasa minim, padahal penghargaan atas karya kebudayaan lokal ini adalah salah satu dari pemicu dari pikiran dan karya-karya kritis komunitas lokal.
Karena kerinduan atas “apresiasi” di tingkat lokal inilah kemudian BOX digagas oleh 5 Komunitas di Kupang (Komunitas Film Kupang, RuangDia, #KupangBagarak, SekolahMUSA dan TENGGARA). BOX digagas oleh beberapa komunitas dan individu di Kota Kupang yang rindu untuk mulai mendorong apresiasi terhadap kerja-kerja Film dan Video yang diproduksi secara lokal, NTT.

SkolMus n Friends BOX 2017

BOX akan berisi kegiatan Screening/Watching (menonton) film dan video produksi lokal NTT, Coaching (latihan) dan berbagi ilmu film/video antar warga dan komunitas kreatif/audio visual dan upaya untuk mendorong lahirnya karya-karya film/video baru (Doing) yang diselingin dengan eksebisi karya dan Kerja Komunitas-komunitas Muda di Kupang.

Kata “BOX” dipilih secara sengaja, yang mewakili keterwakilan filosofi bahwa “BOX” (kotak) adalah sebuah wadah dimana banyak ide dikumpulkan, dimana semua orang disatukan. “BOX” juga mengingatkan bahwa kerja-kerja kreatif dibutuhkan untuk mendorong perubahan sosial, to think and work outside the “box”.

Selengkapnya tentang BOX 2017 Kupang bisa dilihat di halaman facebook ini: https://www.facebook.com/BOX-Kupang-2017-1795908973993192/ ***

Informasi dan Panduan Peserta Pameran Foto dan Workshop Fotografi: “LIHAT, REKAM & CERITAKAN”

Informasi & Panduan Peserta Pameran Foto dan Workshop Fotografi
LIHAT, REKAM, CERITAKAN

SekolahMUSA Angkatan 5 dan Fotografer Kupang/NTT
Galeri Taman Budaya Prov. NTT, 11 – 15 Oktober 2015

lrc_final_pubs_lores3

Bagaimana Saya bisa Terlibat di Pameran ini;

Kami berharap sebanyak mungkin fotografer di Kupang/NTT untuk bisa terlibat. Kami ingin pameran ini menjadi agenda tahunan bagi fotografer di NTT untuk bisa memamerkan karyanya.

Apa Tema Pameran Tahun ini?

Tema Pameran tahun 2016 adalah “Lihat, Rekam & Ceritakan. Tema Lihat, Rekam dan Ceritakan adalah sebuah refleksi kontemplatif dari perjalanan SekolahMUSA selama 5 tahun SekolahMUSA yang hadir sejak 2011. Bagaimana kemudian misi “menyampaikan pesan” ini kemudian diterjemahkan sebagai sebuah seni yang artistik oleh peserta SekolahMUSA dan juga para fotografer lain di Kupang/NTT yang terkoneksi dengan SekolahMUSA.

Karena itu dengan dipilihnya tema Lihat, Rekam dan Ceritakan, pameran foto ini ingin meneruskan pesan-pesan kontemplatif para fotografer pesertanya lewat foto-foto yang dipamerkan, melibatkan seluas-luasnya opini visual para fotografernya dan menceritakan sebuah kisah yang ditangkap oleh mata sang fotografer.

Tema ini juga sengaja dipilih agar KF SkolMus bisa perlahan keluar dari zona nyaman branding “foto jurnalistik” yang selama ini melekat pada KF SkolMus atau orang-orang yang terlibat di SekolahMUSA.

Foto Apa Saja yang bisa Dipamerkan?

 

Pada prinsipnya semua genre foto dapat dipamerkan pada pameran ini selama foto tersebut memiliki cerita yang dapat diceritakan, sesuai dengan tema pameran “Lihat, Rekam Ceritakan”.

Setiap foto tentu punya cerita, mulai dari foto-foto aktifitas manusia (Human Interest) sampai foto-foto model-fashion dan makro. Cerita inilah yang ingin kami angkat dalam pameran kali ini.

Untuk peserta UMUM (yang bukan SekolahMUSA angkatan 5), terdapat 2 pilihan foto cerita yang bisa dipamerkan yaitu:

1. Jenis Foto Cerita (Photo Story), Foto Essay (Essay Photo) atau Foto Tematik.
Foto-Cerita (Photo Story) adalah beberapa foto yang diambil berseri, yang menggambarkan sebuah cerita. Foto Esai/Foto Tematik adalah beberapa foto yang diceritakan dengan membawa tema/cerita tertentu.

2. Jenis Foto Single
Foto Single bisa dari genre apa saja, yang penting memiliki cerita untuk diceritakan dalam keterangan foto/sinopsis/caption fotonya. “Cerita” dari sebuah foto dapat berupa penjelasan tentang subjek foto, tentang konteks subjek foto, tentang cerita pembuatan foto tersebut atau pesan subjektif dari fotografer yang ingin disampaikan kepada yang melihat foto.

Kalau Mau Ikut Pameran ini, Berapa Biayanya?

  • Untuk Foto Cerita/Foto Esai/Foto Tematik biaya kontribusi fotografer adalah Rp 250.000,-. Biaya ini untuk mendukung pencetakan foto pada bahan easy banner, ukuran 81cm x 122cm, biaya pembuatan display-frame dan dukungan untuk pengorganisasian pameran (20%).
  • Untuk Single biaya kontribusi fotografer adalah Rp 150.000/foto,-. Biaya ini untuk mendukung pencetakan foto bahan kanvas ukuran 40cm x 50cm, biaya display-frame dan dukungan untuk pengorganisasian pameran (20%).

Bagaimana cara mendaftar?

Bagi yang ingin terlibat dalam pameran ini dapat menghubungi rekan-rekan SekolahMUSA yang dikenal atau dapat mengontak: Leli Taolin (08113826849), Adi Sodirin (085239198350) dan Lony Wenyi (085339633988), untuk detail proses pendaftarannya. Batas waktu Pendaftaran dan Pengumpulan Foto adalah pada: 6 Oktober 2016

Apakah Setelah Pameran Peserta Bisa Mengambil Karyanya?

Ya, setelah pameran ditutup peserta dipersilahkan untuk mengambil kembali foto karya miliknya, tanpa bingkai. Bagi yang berada di luar Kupang, Panitia dapat mengirimkan karyanya kembali (tanpa bingkai). Biaya kirim menjadi tanggung jawab peserta. Bagi yang tidak mengambil karyanya, foto akan disimpan/dipajang di Sekretariat SekolahMUSA.

Pengumpulan Foto, Waktu Pendaftaran dan Pengumpulan Karya

Batas waktu pendaftaran dan Pengumpulan Foto adalah pada tanggal: 6 Oktober 2016

Apa Latar Belakang Pelaksanaan Kegiatan ini?

Kelas fotografi SekolahMUSA (KF SkolMus) saat ini telah memasuki angkatan ke-5. Seperti biasanya Kelas Fotografi KF SkolMus akan menutup kelas tahun ini dengan memilih sebuah tema dan mengadakan pameran foto sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan hasil-hasil karya fotografi dari para peserta KF SkolMus setiap tahunnya.

Selain itu, dalam rangka mencapai visi SekolahMUSA, agar mencapai keterlibatan 1000 warga kota Kupang dalam mendorong transformasi sosial lewat multimedia di tahun 2025 maka kegiatan pameran ini akan menjadi salah satu jalan menuju pencapaian visi ini. Pameran ini juga menjadi bagian penting untuk menjalankan misi “terus berbagi cahaya” SkolMus dan memperlebar jejaring Solidaritas Berbagi yang telah di kembangkan selama ini.

Juga, diharapkan dengan gagasan pameran tahunan ini, KF SkolMus ingin sekali lagi menyediakan ruang bagi para fotografer di Kupang dan NTT agar memiliki wadah pameran foto tahunan dengan karakter foto yang benar-benar mengeksplorasi kekuatan bahasa jiwa, yang memamerkan foto-foto terbaik mereka.

Apa Tujuan Yang Ingin Dicapai dari Kegiatan ini?

Yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah:

  • Sebagai wadah tahunan Kelas Fotografi SekolahMUSA untuk memamerkan karya para peserta kelas fotografi SekolahMUSA.
  •  Memberikan ruang ekspresi bagi fotografer di Kupang dan NTT untuk mengekspresikan karya-karya mereka.
  • Sebagai bagian dari misi SekolahMUSA, mendorong perubahan sosial lewat multimedia.

Waktu Kegiatan, Kegiatan Pendukung dan Lokasi Kegiatan:

  1. Pameran Foto LIHAT, REKAM & CERITAKAN ini akan dilaksanakan pada 11 s/d 15 Oktober 2016, bertempat di Galeri Taman Budaya, Kupang
  2. Presentasi Karya, oleh Peserta SkolMus Kelas Fotografi angkatan 5 pada 13 Oktober 2016
  3. Workshop “Street Photography” bagi Warga Kota Kupang akan dilaksanakan pada 14 Oktober 2016, di Galeri Taman Budaya, dengan narasumber : Markus “Adhyt Sa” Elimanafe (SekolahMUSA)

Katanya Akan dibuat Buku Foto Setelah Pameran?

Ya, dalam rencana semua foto-foto yang dipamerkan akan dibuat dalam buku foto. Buku foto akan diproduksi pada sekitar Desember 2016.

Tentang Workshop “Street Photography”:

Workshop ini ditujukan bagi warga umum Kota Kupang, sebagai salah satu kegiatan pendukung Pameran Foto ini. Workshop ini akan membahas tentang Fotografi Jalanan (Street Photography) yang akan dibawakan oleh Markus “Adhyt” Elimanafe, salah satu Mentor Pengajar dari SekolahMUSA. Kegiatan Workshop akan dilaksanakan pada Jumat, 14 Oktober 2016, dimulai pada pukul 17.00 WIB (5 Sore), bertempat di lokasi Pameran, Galeri Taman Budaya, Prov NTT.

Biaya pendaftaran untuk Workshop ini adalah Rp 150.000 (termasuk baju kaos).

Untuk mendaftar dapat menghubungi: Putra (0852 5311 6101) via SMS/TELP/WA

Kepanitiaan

Kepanitiaan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Pengarah: Danny Wetangterah
Kordinator kegiatan: Adhyt Eli Manafe
Wakil Kordinator: Adi Sodirin, Vence Dami, Lony Wenyi, Leli Taolin

TIM DISPLAY:
Kordinator: Lony Wenyi, Putra Nunuhitu
Anggota: Semua Peserta Kelas Fotografi Angkatan 5
Tugas: Menyiapkan Display dan materi pameran

TIM KURASI DAN PRODUKSI FOTO:
Kordinator: Peter De Fretes
Anggota: Karolus Naga, Alfred Djami, Adhyt E. Manafe, Putra Nunuhitu, Wandry Dami, Vence Dami, Nona Nomu
Tugas: Mengkurasi foto, menyesuaikan foto dengan tema, memastikan setiap foto memiliki teks, mengurus cetak-mencetak foto.

TIM LOGISTIK PAMERAN:
Kordinator: Leli Taolin,
Anggota: Lony Wenyi, Danny Wetangterah,
Tugas: menjamin logistik (snack, makan-minum) teman-teman yang menjaga pameran tersedia

TIM LOBI LOKASI, PENDAFTARAN DAN PENGUMPULAN KARYA:
Kordinator: Leli Taolin,
Anggota: Adi Sodirin, Lony Wenyi
Tugas: Menjadi narahubung pendaftaran, melobi lokasi Pameran.

KEUANGAN:
Aldiyan Hamanay & Lony Wenyi
Tugas: Mengurus keuangan dan memastikan pertanggung jawaban keuangan

TIM DOKUMENTASI FOTO DAN VIDEO:
Kordinator: Wandry Dami
Anggota: Foto oleh Peter De Fretes, Emilia Ursula, Wandry, Adriyand (FOTO), Video oleh: Matis Hermanto, Peter De Fretes, Sonny Richaard (VIDEO),
Tugas: Dokumentasi Photo Story dan Video Pendek kegiatan.

TIM PUBLIKASI DAN HUMAS:
Kordinator: Deztro R. Djawa, Leli Taolin, Adriyand, Peter De Fretes, Sonny Richard, Un Weo, Andre Yap.
Tugas: Menyebar kegiatan via medsos dan offline, menjamin alumni bisa ikut dan menjaring sebanyak mungkin fotografer NTT bisa terlibat.

TIM LAYOUT BUKU:
Kordinator: Danny Wetangterah, Destro R. D, Wandry Dami, Andre Yap.
Tugas: Mendesain dan Layout Buku Foto SkolMus 2016.
Terima kasih,..

Sampai bertemu di lokasi pameran ya!

Salam..

SekolahMUSA

SkolMus Fasilitasi Pelatihan Fotografi “LIHAT, REKAM & CERITAKAN”, ACF Kupang

Pada 22 Juli 2016, SkolMus berkesempatan memfasilitasi pelatihan fotografi dasar yang dilaksanakan bekerja sama dengan ACF (Action Contra de la Faim), sebuah LSM Internasional  yang berkantor di Kupang.

skolmus_acf13 orang fasilitator mewakili SekolahMUSA; Danny Wetangterah, Dicky Mandaru  dan Karolus Naga memfasilitasi 12 peserta,

Dari tema “LIHAT, REKAM & CERITAKAN” pelatihan fotografi dasar ini, mengajarkan beberapa materi prinsip-prinsip fotografi yag penting seperti  Visual Literacy, Pentingnya Dokumentasi Sosial, Membuat Photo Story dan Praktek membuat Foto bercerita.

Materi-materi ini memotivasi peserta untuk dapat menggunakan fotografi dalam menceritakan cerita mereka. Bahwa fotografi bisa menjadi media yang dahsyat, dan dapat dipergunakan oleh siapapun yang tertarik untuk menggunakannya.

Metode yang dipakai adalah pendekatan apresiatif dan praktek langsung, membuat peserta aktif dan langsung bisa mencoba.

acf_featured

Beberapa hasil praktek foto dari pelatihan fotografi dasar ini. Setiap foto mewakili satu cerita.

Selain sebagai penguatan kapasistas staf, pelatihan ini diharapkan menjadi trigger bagi ide-ide kreatif fotografi bagi para staf ACF yang  bekerja pada isu-isu kemanusiaan di wilayah Kupang dan NTT.

Peatihan ini juga akan disusul dengan Pameran Foto kerja-kerja ACF Kupang, yang rencananya akan dilaksanakan pada 6 Agustus 2016, di Lipo Plaza, Kupang

Jika ada yang tertarik untuk melaksanakan pelatihan seperti ini, silahkan jangan segan mengubungi  SkolMus ya.. :)*

2 alumni Skolmus Ikut WISDOM Photo Exhibition, Jakarta 4 – 23 Maret 2016

panna_wisdom

2 Alumni SekolahMUSA ikut serta dalam  WISDOM Photo Exhibition  | The 10th Anniversary of PannaFoto Institute, memperingati 10 tahun Pannafoto Institute.  Lengkapnya tentang pameran foto ini bisa menuju ke link ini: http://www.pannafoto.org/photo-exhibition-wisdom-the-10th-anniversary-of-pannafoto-institute/

2 orang tersebut adalah Armin Septiexan (Deztro) dan Darminto Taebenu (Liko).

Keikutsertaan ini juga karena sebelumnya SekolahMUSA bekerja sama dengan PannaFoto Institute dalam melaksanakan Workshop dan Pameran Foto “Aku dan Kotaku”.

Workshop “Aku dan Kotaku” juga dilaksanakan di 5 kota yang lain. Tim Komite Pañña kemudian memilih karya-karya yang paling berhasil mengungkapkan tema tersebut, yang berupa satu foto (single photo), rangkaian photo story yang lengkap, ataupun karya multimedia. Seluruh karya yang terpilih inilah yang dipamerkan di acara utama perayaan 10 tahun berdirinya Pañña.**